Pages

Subscribe:

About


ShoutMix chat widget

Berapa yang mampir



Profile

Foto saya
Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

Pengikut

Senin, 16 Mei 2011

Persebaya Rebut Tahta dari Musuh Lama


Pemain Persema dan Otavio Dutra (Persebaya) dalam LPI putaran pertama di Gelora 10 Nopember, 15/05/11. Foto: Farid Fandi/Jawa Pos
SURABAYA - Persebaya 1927 di ambang juara paro musim Liga Primer Indonesia (LPI) setelah mengalahkan Persema dengan skor telak 4-0 (3-0) di Gelora 10 Nopember kemarin (15/5). Gol tim berjuluk Green Force itu diciptakan oleh Otavio Dutra di menit pertama, Andrew Barisic di menit ke-8 dan 65, serta Nico Susanto pada menit 33.

Tambahan tiga poin itu langsung mengantarkan Persebaya meraih puncak klasemen dengan nilai sama dengan Persema, 39. namun, Persebaya jauh lebih baik dalam produktifitas gol dengan surplus 29 gol. Sedangkan Persema hanya surplus 18 gol.

Dibandingkan laga sebelumnya, Persebaya memang tampil apik di laga ke-17 itu. Dominasi lini tengah mereka berlanjut pada umpan-umpan matang ke lini depan tim asal Kota Pahlawan itu. Keempat gol yang terjadi juga tak lepas dari kontribusi gelandang-gelandang mereka.

Pelatih Aji Santoso mengaku gembira dengan permainan bagus timnya. Menurutnya, permainan sesuai dengan gaya tim menjadi kunci utama sukses Persebaya. "Sejak awal kami tekankan agar para pemain bisa bermain enjoy, dan bermain sesuai dengan ciri khas Persebaya," terangnya.

Gaya bermain dengan mengandalkan umpan pendek cepat memang cukup merepotkan Persema. Di sisi lain, Persema tak menampilkan karakter lugas yang mampu merusak konsentrasi dan mental pemain Persebaya. Atas hal tersebut, pelatih Persema Timo Schuenemann beralasan ingin membangun sepak bola dengan karakter cantik dan cara yang fair.

"Bisa saja pemain kami menghajar Andik (Vermansyah) saat baru masuk untuk merusak mentalnya. Tapi itu tidak kami lakukan," terang pelatih berkebangsaan Jerman tersebut. Timo mengaku sangat kecewa dengan permainan timnya.

Menurut dia, kekalahan telak itu tak lepas dari gol pertama yang membuat mental anak asuhnya goyah. "Sangat mengecewakan, awalnya kami ingin bermain menyerang dengan tetap berkonsentrasi pada pertahanan. Namun gol pertama membuat konsentrasi pemain terganggu," tegasnya.

Hal itu membuat konektifitas antar lini cukup jauh dan kerap melakukan kesalahan sendiri. Tapi di babak kedua, Timo menyebut mental anak asuhnya mulai kembali. "Tapi sayang, itu sudah terlambat," tegasnya.

Di laga tersebut, Persema terkesan kurang greget ketika bertarung di laga yang disaksikan tak kurang dari 30 ribu penonton itu. Timo juga tak tampak meluap-luap memberikan instruksi seperti ketika timnya bermain di kandang. Di sisi lain, mereka hanya membawa 16 pemain saja. Menurut Timo, hal itu tak lepas dari kebijakan LPI Pusat karena keterbatasan dana.

Jubir LPI Abi Hasantoso mengatakan bahwa pihaknya tidak merubah ketentuan untuk jumlah pemain yang dibawa di laga away. Yakni 18 pemain. " Sampai sekarang ketentuan jumlah pemain yang dibawa untuk partai away tidak berubah," terangnya. Lagi pula, perbedaan biaya yang disebabkan dua orang pemain untuk laga away di Surabaya juga tak signifikan. Sebab, malang termasuk dekat dengan Surabaya.

Pada perkembangan lain, Ketua Komisi Disiplin LPI m. Sholeh mencatat pelanggaran yang dilakukan suporter Persebaya di laga kemarin. Ini tak lepas dari sikap suporter Persebaya yang menyuarakan nyanyian bernada rasis dan tak sopan kepada komunitas suporter lain. "Dalam minggu ini pasti akan ada sanksi," tegas Sholeh.

Namun, bukan hanya suporter yang bakal diganjar sanksi. Panpel Persebaya tampaknya juga bakal kebagian hukuman. Ini tak lepas dari meluapnya penonton hingga membuat pagar tribun sebelah selatan roboh. (uan)